Awalnya blog kumpulan tugas kuliah, lantas menjelma menjadi sarang laba-laba. kini dihidupkan kembali dengan berbagai post di dalamnya, beberapa artikel yang mungkin bermanfaat untuk dibaca, beberapa hanyalah limbah dari pikiran dan tulisan yang sayang jika hanya mengendap di folder tak terbaca.

Senin, 21 September 2015

Tahap Pemberian Makanan Anak Gizi Buruk



TUGAS PROGRAM GIZI
TAHAP PEMBERIAN MAKANAN ANAK GIZI BURUK
 

Disusun oleh:
Dwi Astuti Farikha


TAHAP PEMBERIAN MAKANAN ANAK GIZI BURUK

Kurang energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0% anak sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek. Keadaan ini berpengaruh kepada masih tingginya angka kematian bayi. Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat. Tahap pemberian, jenis, jumlah dan cara pemberian makanan juga mempengaruhi penanganan terhadap gizi buruk ataupun gizi kurang.
A.    RAWAT JALAN
Pada Rawat  Jalan pasien gizi buruk, diberikan paket obat dan makanan untuk pemulihan gizi. Makanan untuk Pemulihan Gizi:
1.      Prinsip
·         Makanan untuk Pemulihan Gizi adalah makanan padat energi yang diperkaya dengan vitamin dan mineral.
·         Makanan untuk Pemulihan Gizi diberikan kepada anak gizi buruk selama masa pemulihan.
·         Makanan untuk Pemulihan Gizi dapat berupa: F100, makanan therapeutic/gizi siap saji dan makanan lokal. Makanan lokal dengan bentuk mulai dari makanan bentuk cair, lumat, lembik, padat.
·         Bahan dasar utama Makanan Untuk Pemulihan Gizi dalam formula F100 dan makanan gizi siap saji (therapeutic feeding) adalah minyak, susu, tepung, gula, kacangkacangan dan sumber hewani. Kandungan lemak sebagai sumber energi sebesar 30-60 % dari total kalori.
·         Makanan lokal dengan kalori 200 kkal/Kg BB per hari, yang diperoleh dari lemak 30-60% dari total energi, protein 4-6 g/Kg BB per hari.
·         Apabila akan menggunakan makanan lokal tidak dilakukan secara tunggal (makanan lokal saja) tetapi harus dikombinasikan dengan makanan formula.

2.      Jenis Makanan
-       F100
-       Makanan lumat
-       Makanan lunak
3.      Jumlah dan Frekuensi

Makanan untuk Pemulihan Gizi bukan makanan biasa tetapi merupakan makanan khusus untuk pemulihan gizi anak yang diberikan secara bertahap:
a)      Anak gizi buruk dengan tanda klinis diberikan secara bertahap:
Ø  Fase rehabilitasi awal 150 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali pemberian/hari. Diberikan selama satu minggu dalam bentuk makanan cair (Formula 100).
Ø  Fase rehabilitasi lanjutan 200-220 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali pemberian/hari (Formula 100).

b)      Anak gizi buruk tanpa tanda klinis langsung diberikan fase rehabilitasi lanjutan 200-220 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali pemberian/hari (Formula 100).
Rehabilitasi lanjutan diberikan selama 5 minggu dengan pemberian makanan secara bertahap dengan mengurangi frekuensi makanan cair dan menambah frekuensi makanan padat. Contoh Frekuensi Pemberian Makanan per hari:

Tabel 1: Anak gizi buruk tanpa tanda klinis:

Minggu Ke
Formula 100
Makanan Utama + Buah
Makanan Selingan
I
5 kali
1 kali
1 kali
II
4 kali
2 kali
1 kali
III
4 kali
2 kali
1 kali
IV
3 kali
3 kali
2 kali
V
3 kali
3 kali
2 kali

Tabel 2: Anak gizi buruk dengan tanda klinis

Minggu Ke
Formula 100
Makanan Utama + Buah
Makanan Selingan
I
6 kali
-
-
II
5 kali
1 kali
1 kali
III
4 kali
2 kali
1 kali
IV
4 kali
2 kali
1 kali
V
3 kali
3 kali
2 kali
VI
3 kali
3 kali
2 kali

Catatan:
·         Bila berat badan anak < 7 Kg ; diberikan makanan bayi (lumat)
·         Bila berat badan anak > 7 Kg ; diberikan makanan anak (lunak)

Pemberian makanan rehabilitasi lanjutan dapat diteruskan bila kondisi anak gizi buruk masih memerlukan makanan formula.  Bagi anak yang status gizinya pulih (-2 SD) maka berangsur menuju ke makanan anak sehat sesuai dengan anjuran makan menurut kelompok umur (besar porsi, macam makanan, frekuensi pemberian).

4.      Cara Pemberian

Makanan untuk Pemulihan Gizi diberikan sesuai anjuran petugas kesehatan. Cara Pemberian Makanan untuk Pemulihan Gizi kepada anak di rumah:
a)      Sebelum menyiapkan makanan, cucilah tangan dengan sabun.
b)      Berikan makanan kepada anak dengan memperhatikan jarak waktu makan.
c)      Usahakan makanan tersebut dihabiskan sesuai dengan porsi yang ditentukan.
d)     Berikan makanan dalam bentuk cair dengan menggunakan gelas, hindari menggunakan botol atau dot

Makanan untuk Pemulihan Gizi :
Ø  diberikan setelah pemberian ASI bagi bayi yang masih mendapat ASI
Ø  diberikan sebelum pemberian makanan keluarga bagi anak yang sudah mendapat makanan utama

5.      Cara Penyimpanan

a)      Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam bentuk cair (Formula 100) harus segera diberikan dan dihabiskan. Makanan dalam bentuk cair tersebut hanya dapat disimpan dalam suhu ruang maksimal 2 jam.
b)      Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam bentuk kering yang diracik secara terpisah oleh tenaga kesehatan Puskesmas dapat disimpan maksimal 7 hari, dan disimpan di tempat yang sejuk dan kering, aman, tertutup dan terhindar dari bahan cemaran dan binatang pengganggu (semut, tikus, kecoa, cicak, kucing, anjing, unggas, dll).
c)      Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam kemasan agar diperhatikan masa kadaluarsa yang terdapat pada kemasan

B.     RAWAT INAP

1.      Prinsip
·         Mencegah dan mengatasi hipoglikemia
·         Mencegah dan mengatasi hipotermia
·         Mencegah dan mengatasi dehidrasi
·         Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit
·         Mengobati infeksi
·         Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro
·         Memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi
·         Memberikan makanan untuk tumbuh kejar
·         Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang
·         Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah

2.       Jenis Makanan

-       F75/modifikasi
-       F100/modifikasi
-       ASI
-       Makanan bayi/makanan lumat
-       Makanan anak/makanan lunak

3.      Jumlah dan Frekuensi

Pemberian formula dan makanan sesuai dengan fase sebagai berikut:
a.       Fase Stabilisasi
Diberikan makanan formula 75 (F-75) dengan asupan gizi 80-100 KKal/kgBB/hari dan protein 1-1,5 g/KgBB/hari. ASI tetap diberikan pada anak yang masih mendapatkan ASI.
b.      Fase Transisi
Pada fase transisi ada perubahan pemberian makanan dari F-75 menjadi F-100. Diberikan makanan formula 100 (F-100) dengan asupan gizi 100-150 KKal/kgBB/ hari dan protein 2-3 g/kgBB/hari.
c.       Fase Rehabilitasi
Diberikan makanan seperti pada fase transisi yaitu F-100, dengan penambahan makanan untuk anak dengan BB< 7 kg diberikan makanan bayi dan sari buah, dan untuk anak dengan BB > 7 kg diberikan makanan anak dan buah. Asupan gizi 150-220 KKal/kgBB/hari dan protein 4-6 g/kgBB/hari.

4.      Cara Pemberian

Ø  Pemberian dapat peroral atau melalui pipa nasogastrik
Ø  Porsi makanan kecil dengan frekuensi makanan saring
Ø  Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar, rendah laktosa, dan rendah serat
Ø  ASI diteruskan sampai usia 2 tahun
Ø  Makanan padat diberikan pada fase rehabilitasi dan berdasarkan berat badan, yaitu: BB < 7 kg diberi makanan bayi/lumat, BB ≥ 7 kg diberi makanan anak/lunak.

5.      Cara Penyimpanan

·         Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam bentuk cair (Formula 100) harus segera diberikan dan dihabiskan. Makanan dalam bentuk cair tersebut hanya dapat disimpan dalam suhu ruang maksimal 2 jam.
·         Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam bentuk kering yang diracik secara terpisah oleh tenaga kesehatan Puskesmas dapat disimpan maksimal 7 hari, dan disimpan di tempat yang sejuk dan kering, aman, tertutup dan terhindar dari bahan cemaran dan binatang pengganggu (semut, tikus, kecoa, cicak, kucing, anjing, unggas, dll).
·         Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam kemasan agar diperhatikan masa kadaluarsa yang terdapat pada kemasan

C.    PMT PEMULIHAN

1.      Prinsip
·         PMT Pemulihan diberikan dalam bentuk makanan atau bahan makanan lokal dan tidak diberikan dalam bentuk uang.
·         PMT Pemulihan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh balita  sasaran sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan utama.
·         PMT Pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran sekaligus sebagai proses pembelajaran dan  saran komunikasi antar ibu dari balita sasaran.
·         PMT pemulihan merupakan kegiatan di luar gedung puskesmas dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan lintas program dan sektor terkait lainnya.
·         PMT Pemulihan dibiayai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Selain itu PMT pemulihan dapat dibiayai dari bantuan lainnya seperti partisipasi masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah Daerah.

2.      Jenis Makanan

·         Makanan tambahan pemulihan diutamakan berbasis bahan makanan atau makanan lokal. Jika bahan makanan lokal terbatas, dapat digunakan makanan pabrikan yang tersedia di wilayah setempat dengan memperhatikan kemasan, label dan masa kadaluarsa untuk keamanan pangan,
·         Makanan tambahan balita sasaran diutamakan berupa sumber protein hewani maupun nabati (misalnya ikan/telur/daging/ayam, kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tempe dan tahu ) serta sumber vitamin dan mineral yang terutama berasal dari sayur-sayuran dan buah-buahan setempat.
·         Makanan tambahan pemulihan untuk balita berbasis makanan lokal ada 2 jenis yaitu berupa:
a)      MP-ASI (untuk bayi dan anak berusia 6-23 bulan)
b)       Makanan tambahan untuk pemulihan anak balita usia 24-59 bulan berupa makanan keluarga.

3.      Jumlah dan Frekuensi

Ø  Makanan tambahan diberikan sekali sehari selama 90 hari berturut-turut

4.      Cara Pemberian

Berikut adalah beberapa alternatif cara penyelenggaraan kegiatan PMT-Pemulihan yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi setempat :
1. Masak bersama setiap hari :
a)      Makanan tambahan pemulihan disiapkan dan dimasak oleh kader bersama ibu sasaran di rumah kader atau tempat lain sesuai kesepakatan.
b)      Makanan tambahan pemulihan yang dihidangkan dapat berupa 1 porsi makanan lauk atau makanan selingan dan buah.
c)      Setiap hari kader bersama ibu sasaran memasak makanan sesuai kebutuhan di tempat yang disepakati bersama. Masing-masing 1 anak balita dan ibu hamil sasaran mendapat makanan tambahan yang sudah dimasak tersebut ditambah 1 porsi buah, seperti pisang, papaya, semangka atau melon.
d)     Pada waktu sasaran sedang makan, kader memberikan penyuluhan tentang makanan dan manfaatnya.
e)      Kegiatan serupa berlangsung selama 7 hari dalam seminggu berturut-turut.
f)       Jika ada sasaran yang tidak hadir, kader mengantar makanan tambahan pemulihan ke rumah sasaran.
g)       Jumlah hari makan sasaran adalah 90 hari (HMA dan HMB) yang dilakukan berturut-turut.

2. Masak bersama 2 kali seminggu :
a)      Penyelenggaraan masak bersama dapat dilakukan 2 kali seminggu dalam bentuk makanan lokal.
b)      Setiap 2 kali seminggu kader bersama sasaran memasak makanan sesuai kebutuhan di tempat yang disepakati bersama. Masing-masing 1 anak balita dan ibu hamil sasaran mendapat makanan tambahan yang sudah dimasak tersebut ditambah 1 porsi buah.
c)      Hari-hari lainnya dapat diberikan bahan makanan yang kering seperti : telur, abon, peyek kacang, teri kering, biskuit, susu UHT, buahbuahan, dll untuk dibawa pulang selama 2 hari berikutnya.(lihat lampiran 4)
d)     Makanan tambahan pemulihan yang dihidangkan dapat berupa 1 porsi makanan lauk atau makanan selingan dan buah.
e)       Pada waktu sasaran makan, kader memberikan penyuluhan tentang makanan dan manfaatnya.
f)       Kegiatan serupa berlangsung selama 2 kali dalam seminggu.
g)       Jika ada sasaran yang tidak hadir, kader mengantar makanan tambahan pemulihan ke rumah sasaran.
h)      Jumlah hari makan sasaran adalah 90 hari (HMA dan HMB) yang dilakukan berturut-turut.
                          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar